Follow by Email

Jumat, 21 Juni 2013

COOPERATIVE LEARNING PLUS KARYAWISATA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS LAPORAN: METODE EFEKTIF MENUJU PEDAGOGIK TRANSFORMATIF



COOPERATIVE LEARNING PLUS KARYAWISATA
DALAM PEMBELAJARAN MENULIS LAPORAN:
METODE EFEKTIF MENUJU PEDAGOGIK TRANSFORMATIF

oleh
BAREN BARNABAS
Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Cikajang Garut


            Menulis merupakan keterampilan terakhir dari empat keterampilan berbahasa yang dipelajari siswa setelah mendengarkan, berbicara, dan membaca. Tidaklah mengherankan jika Chaedar Alwasilah dalam makalahnya yang berjudul ”Pemutakhiran Metode Pembelajaran Bahasa” (2001: 2) berpendapat bahwa menulis adalah keterampilan yang paling sulit dipelajari siswa dan diajarkan guru.
            Jika merasa tertantang dengan pendapat di atas, maka sudah saatnya guru bahasa Indonesia melakukan langkah-langkah inovatif dalam mengonstruksi dan memodifikasi metode pembelajaran. Dengan demikian, momok yang selama ini membayangi siswa dan guru dalam setiap pembelajaran bahasa Indonesia dapat dienyahkan sehingga pelaksanaan pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
            Salah satu metode hasil inovasi modifikasi yang penulis tawarkan sebagai alternatif yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran menulis laporan adalah metode ”Cooperative Learning plus Karyawisata”. Transformasi unsur ekonomi dimasukkan ke dalamnya sebagai upaya nyata pembinaan pribadi siswa terkait dengan lingkungan ekonomi sosialnya (bandingkan Tilaar, 2005: 91– 92).
            Langkah-langkah tersebut dilakukan sebagai pembuktian kreativitas guru (Nursisto, 1999: v dan 102) juga didasarkan pada teori yang mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran, guru bisa melakukan modifikasi terhadap lima unsur kegiatan mengajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan, dan evaluasi (Howard, 1999; Weinbrenner, 2001 dalam Mukti dan Sayekti, 2003).
            Selain itu, menurut Mbak Itadz (dalam Efendi [Ed.], 2008: 91) pemerolehan bahasa tulis dapat terjadi apabila anak memiliki kesempatan untuk mencelupkan diri, terlibat aktif, memperoleh contoh nyata, memperoleh kesempatan dan tanggung jawab, mempraktikkan dan mengira-ira (?), serta memperoleh respon yang tepat dari orang dewasa (bandingkan juga Meier, 2005: 40).
Guru memulai pembelajaran setelah para siswa berdoa dan siap belajar. Mula-mula, guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada kompetensi dasar ”Menulis Laporan dengan Bahasa yang Baik dan Benar”, yaitu agar para siswa: (1) Mampu melakukan kegiatan observasi dan wawancara untuk keperluan penulisan laporan yang mengandung unsur ekonomi; (2) Mampu menyusun kerangka laporan berdasarkan urutan tempat (ruang), waktu, atau kegiatan; (3) Mampu mengembangkan kerangka laporan ke dalam beberapa paragraf dengan menggunakan bahasa yang komunikatif; (4) Mampu menyunting kembali isi laporan dengan memperhatikan ketepatan struktur kalimat, penggunaan ejaan, dan tanda baca. 
Untuk mewujudkan cooperative learning, guru mengeluarkan kertas warna-warni: merah, kuning, hijau, biru, ungu, oranye, merah muda, dan hijau muda. Bentuknya beraneka: segi tiga, bujur sangkar, empat persegi panjang, lingkaran, bulan sabit, bintang, donat, dan bunga matahari. Potongan-potongan kertas itu kemudian dimasukkan ke dalam kotak kapur bekas [merek ”sarjana”] yang sudah dibungkus kertas warna [tiap bidang sisinya ditutup dengan warna yang berbeda]. Ketua kelas kemudian berkeliling serta menyodorkannya kepada seluruh siswa untuk mengambil salah satu potongan kertas berwarna-warni tadi. Ketika mengambil, setiap siswa diharuskan memejamkan mata agar pengundian tersebut benar-benar alami. Ingat, teknik membagi kelompok dengan cara ini cukup adil dan memiliki dua alternatif, bisa berdasarkan warna ataupun bentuk kertas. Pilih sesuai dengan kebutuhan.
            Berikutnya, para siswa dipersilakan untuk bergabung membentuk kelompok berdasarkan hasil pengundian dan menyusun tata letak bangku berbentuk formasi letter ”U” atau tapal kuda agar  nyaman dalam kerja kelompoknya serta memudahkan guru dalam mengamati, memeriksa, dan membimbing seiap kelompok. Jangan lupa, anjurkan kepada setiap kelompok untuk memberi nama kelompoknya dengan nama koran, tabloid, atau majalah yang menjadi favorit mereka. (Didapat sejumlah delapan kelompok sesuai dengan jumlah bentuk kertas yang tersedia, setiap kelompok berjumlah lima orang, jumlah siswa kelas yang bersangkutan memang 40 orang. Hal ini sudah diperhitungkan karena pendekatan yang dipakai adalah Tipe Investigasi kelompok atau Kelompok Penyelidikan [lihat Zamzani dan Mbak Itadz, 2008: 38]. Didapat pula nama-nama kelompok, seperti Pikiran Rakyat, Mangle, Giwangkara, Garut Pos, Priangan, Gaul, Hai, dan Seputar Indonesia). Tentang kelompok belajar ini, Sa’di (dalam Nakosteen, 2003: 123) mengiaskan dengan indah, ”Dahulu, aku adalah sepotong tanah liat yang tidak berharga, tetapi karena selalu berteman dengan bunga-bunga mawar, maka bau harum sahabatku mengalir ke dalam zatku. Kalau aku tidak bergaul dengannya, tentu aku masih menjadi sebongkah tanah liat yang hina.”
            Setelah itu, untuk mengaitkan tentang pentingnya ketelitian dalam observasi (pengamatan) siswa dihibur dengan cerita jenaka yang disajikan guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Mbak Itadz (2008: 152) bahwa anak-anak sangat menyukai humor. Anak-anak juga akan terbantu dengan humor. Selain itu, bercerita merupakan metode dan materi yang dapat diintegrasikan dengan keterampilan lain, yakni berbicara, membaca, menulis, dan menyimak .... (Mbak Itadz, 2008: 20).
            Ketika bercerita, guru sungguh-sungguh berperan sebagai pencerita yang baik sesuai dengan karakter yang diceritakan sehingga para siswa merasa terkesan dan terhibur karenanya. Pesan yang tersirat juga dapat tertangkap oleh mereka.
Setelah itu, setiap kelompok menyimak dan mengamati model laporan yang divisualisasikan guru melalui laptop dan infocus. Model laporan ini dibuat sendiri oleh guru guna mendapat kesesuaian dengan tujuan pembelajaran. Marno dan Idris (2008: 28) mewasiatkan bahwa mendidik dengan keteladanan lebih efektif daripada mengajar dengan perkataan (lisan al-hal af shahu min lisan al-maqal).
            Bilamana para siswa selesai mencermati model laporan tersebut, guru membagikan LK yang memuat 10 buah soal dengan dua alternatif jawaban, benar (B) dan salah (S). Soal-soal itu menguji informasi-informasi yang didapat dari model laporan yang dicermati para siswa.
            Setelah para siswa selesai mengerjakan LK, mereka diminta untuk saling menukarkan hasil pekerjaannya dengan kelompok lain untuk dievaluasi. Adapun kunci jawaban dibacakan oleh guru. Kelompok yang nilainya paling tinggi, ketuanya dikalungi ”bintang emas” yang sudah disiapkan oleh guru.
            Latihan berikutnya adalah mendaftar hal-hal yang dilaporkan dalam model laporan. Selain itu, cara mengutip informasi dari narasumber pun dilatihkan oleh guru. Hal ini dimaksudkan agar siswa mendapat gambaran tentang laporan yang akan ditulis mereka nanti. Guru kembali membagikan LK yang di dalamnya memuat 15 hal yang dilaporkan. Para siswa tinggal membubuhkan tanda centang (√) jika sebagian atau ke-15 hal tersebut sesuai dengan isi dari model laporan dan memberikan tanda silang (x) jika tidak sesuai. Untuk LK cara mengutip informasi dari narasumber, dibuat contoh lima buah kalimat (langsung dan tak langsung) untuk diubah oleh para siswa dengan kalimat yang sebaliknya.
            Setelah para siswa berlatih hingga menguasai dasar-dasar menulis laporan, mereka pun ditugaskan untuk ”turun gunung” atau karyawisata ke luar kelas guna mempraktikkan apa-apa yang didapat di dalam kelas. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah disimpulkan Dewey bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya (penapendidikan.com, 2009). Sementara itu, Sujana (1991: 87) menyatakan bahwa karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri yang berbeda dengan karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar. (lihat juga Suwarna dkk., 2006: 114; Hidayat dan Rahmina, 1991: 123).
            Tugas diberikan kepada seluruh kelompok untuk melakukan perjalanan ke luar kelas. Akan tetapi, pengumpulan data dilakukan secara individu. Maksudnya, agar mereka memiliki tanggung jawab sendiri demi keberhasilan kelompok. Mereka diminta untuk mengamati salah satu objek yang diminati (kelompok mana yang lebih dulu menghampiri, merekalah yang berhak mengamati dan mewawancarai), misalnya kantin Mang Heru dan Mang Uden, pedagang dorong (mi ayam, mi baso, baso tahu, batagor, cilok, cimol, gorengan, es campur, atau es doger) yang ada di areal sekolah. Hasilnya dikumpulkan dan diolah oleh tiap-tiap kelompok sehingga karena saling melengkapi, didapatlah berbagai data dan fakta yang lengkap serta akurat sebagai bahan menulis laporan.
            Kegiatan ini diakhiri dengan presentasi singkat setiap kelompok melalui perwakilannya. Hasil menulis laporan juga ditempel di dinding kelas. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk ”wisata hasil karya”, yakni melihat-lihat hasil kerja kelompok lain yang berfungsi sebagai studi komparatif. Guru mengevaluasi hasil kerja mereka, mendemonstrasikan penyuntingan, dan memberikan penghargaan kepada seluruh kelompok dengan yel-yel khas SMP Negeri 2 Cikajang, yaitu tepuk ”Fanatik Fantastik”. ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar